Upah Tak Dibayar, Ratusan Buruh Sekolah Rakyat Datangi Polres Bone

Upah Tak Dibayar, Ratusan Buruh Sekolah Rakyat Datangi Polres Bone

BONE, BERITA-SULSEL.COM — Ratusan buruh Sekolah Rakyat datangi Mapolres Bone, Selasa (11/8/26), sekitar pukul 23.00 Wita. Sebagian buruh mengaku berjalan kaki dari lokasi Sekolah Rakyat di Dusun Rompe Kelurahan Bajoe Kecamatan Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone.

Kedatangan ratusan buruh ini bermaksud melaporkan SA, atas dugaan penggelapan upah yang seharusnya terbayar sejak 2 minggu lalu. DS, salah seorang buruh yang mendatangi Mapolres Bone, mengaku ada sekitar 400 buruh yang belum dibayarkan upahnya.

“Kemarin sudah mediasi sampai jam 3, gak ketemu. Disuruh nunggu dulu, sampai kapan, gak ada titik terangnya”, kesal DS.

Berada di Bone sejak Juni lalu, DS mengungkap pengerjaan Sekolah Rakyat masih sekitar 50 persen karena ada 18 gedung yang akan dibangun di lokasi. Namun, jika upah tetap tak dibayar, DS dan rekan-rekannya tidak bersedia melanjutkan pekerjaan. Upah para buruh seharusnya dibayarkan tiap 2 minggu sekali dengan nilai sekitar Rp3 juta.

“Perjanjian habis kontrak pulang. Ini yang datang dari jawa semua, ada yang dari purwodadi, surabaya, semarang, madura. Pengerjaan dimulai sejak habis lebaran kemarin, anak istri sudah nunggu di rumah, gak ada duit buat tiket pulang, mau beli aja duit gak ada, pusing”, lanjut DS.

Terpisah, Asisten I Pemkab Bone, Andi Muhammad Yamin, menyampaikan bahwa pemerintah akan membantu melakukan koordinasi dengan pihak penyelenggara agar buruh bisa memperoleh haknya.

“Sementara kita koordinasikan dengan pihak pelaksana, semoga cepat selesaikan sehingga target proyek bisa cepat selesai”, ujarnya.

Sebelum memutuskan membuat laporan polisi, para buruh ini juga telah membuka ruang mediasi berharap SA segera membayarkan upah mereka. Namun sayang sampai hari ini, SA justru tidak terlihat di lokasi Sekolah Rakyat. Hal inilah yang kemudian memicu kemarahan para buruh hingga memutuskan lapor polisi yang diwakili oleh AM sebagai pelapor dan HA sebagai saksi.


Comment