Institut Nobel Indonesia Dorong Entrepreneur Desa di Pinrang Go Digital

Institut Nobel Indonesia Dorong Entrepreneur Desa di Pinrang Go Digital

PINRANG, BERITA-SULSEL.COM — Potensi ekonomi Desa Sempang, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang, terus didorong agar tidak berhenti sebagai komoditas mentah. Melalui seminar kewirausahaan bertema “Menumbuhkan Entrepreneur Desa Melalui Inovasi, Digitalisasi dan Pemanfaatan Potensi Lokal”, pelaku usaha dan masyarakat diajak mengembangkan potensi desa menjadi produk bernilai tambah dan mampu menembus pasar yang lebih luas.

Seminar tersebut berlangsung pada Rabu, 2 September 2026, di Desa Sempang. Kegiatan ini menghadirkan Kaprodi Pascasarjana Magister Manajemen dan Kewirausahaan Institut Teknologi dan Bisnis Nobel Indonesia, Dr. Fitriany, SE., M.M., CPCSME, sebagai pemateri.

Fitriany menekankan pentingnya membangun kewirausahaan desa di tengah perkembangan ekonomi digital. Menurut materi seminar, desa memiliki potensi ekonomi besar yang belum tergarap secara optimal. Karena itu, inovasi dan digitalisasi menjadi kunci untuk mendorong transformasi ekonomi sekaligus memperluas akses pasar produk lokal.

“Desa bukan lagi sekadar penyedia bahan baku mentah, melainkan pusat inovasi ekonomi baru yang mampu menciptakan lapangan kerja dan menekan arus urbanisasi,” demikian gagasan utama yang disampaikan dalam materi seminar.

Dorong Produk Lokal Naik Kelas

Seminar juga mengajak masyarakat memetakan kekayaan sumber daya yang dimiliki Desa Sempang, termasuk hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan khas daerah. Selanjutnya, masyarakat dapat mengolah komoditas tersebut menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi.

Selain itu, pengembangan usaha perlu melibatkan berbagai kelompok masyarakat. Generasi muda serta kelompok wanita tani (KWT), misalnya, dapat menjadi motor produksi dan pengembangan usaha. Pada saat yang sama, kearifan lokal tetap perlu dipertahankan agar produk desa memiliki identitas dan keunggulan di pasar.

Materi seminar memperkenalkan tiga pilar wirausaha desa maju, yakni inovasi produk, digitalisasi usaha, dan kolaborasi ekosistem. Melalui inovasi, pelaku usaha dapat melakukan diversifikasi pangan, meningkatkan standar mutu, memperbaiki kemasan, serta memperpanjang masa simpan produk.

Kemudian, digitalisasi membuka peluang pemasaran melalui media sosial, platform e-commerce, dan pembayaran nontunai seperti QRIS. Sementara itu, kolaborasi BUMDes, kelompok tani, pelaku UMKM, dan unsur permodalan desa dapat memperkuat daya saing usaha secara kolektif.

Digitalisasi Perluas Pasar

Pemanfaatan teknologi juga menjadi salah satu perhatian utama. Dengan akses digital, produk khas Desa Sempang berpeluang menjangkau pasar regional hingga nasional tanpa terlalu bergantung pada perantara.

Bahkan, pelaku usaha cukup memanfaatkan smartphone untuk mengelola katalog produk, menerima pesanan, serta memantau arus kas secara lebih transparan.

Seminar juga mendorong perubahan pola usaha. Pelaku usaha tidak lagi hanya menjual hasil panen dalam bentuk mentah, tetapi mulai mengolah, mengemas, memberi merek, serta memasarkannya secara digital melalui WhatsApp Bisnis, TikTok Shop, dan marketplace. Pencatatan keuangan pun perlu dipisahkan dari keuangan rumah tangga dan dilakukan secara lebih tertib.

Untuk memulai usaha, materi seminar menawarkan empat langkah, yaitu memvalidasi kebutuhan pasar, menguji produk dan kemasan, melengkapi legalitas dasar seperti P-IRT dan halal, serta membangun cerita produk melalui konten digital.

Nobel Indonesia dan Desa Sempang Jalin Kerja Sama

Selain seminar, Institut Teknologi dan Bisnis Nobel Indonesia juga melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Pemerintah Desa Sempang Patangpanua, Pinrang.

Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi antara perguruan tinggi dan desa dalam pengembangan kewirausahaan. Kolaborasi diharapkan dapat memperkuat ekosistem usaha sekaligus mendorong masyarakat memanfaatkan potensi lokal melalui inovasi dan teknologi digital.

Dengan demikian, seminar kewirausahaan ini tidak hanya memberikan wawasan, tetapi juga mendorong perubahan cara pandang terhadap ekonomi desa. Desa Sempang diharapkan mampu mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai tambah, memperluas pasar, dan membangun kemandirian ekonomi melalui inovasi serta digitalisasi.


Comment