MAKASSAR, BERITA-SULSEL.COM – Dewan Kesenian Sulawesi Selatan (DKSS) secara resmi membuka perhelatan akbar Festival Teater Cerita Rakyat Sulawesi Selatan dan Pameran Benda Pusaka 2026. Acara yang berpusat di Makassar ini memulai rangkaian kegiatannya pada Jumat malam, 8 Mei 2026, dan akan berlangsung hingga 10 Mei mendatang.
Ketua DKSS, Dr. Arifin Manggau, menegaskan komitmennya untuk menjadikan festival ini sebagai agenda pertunjukan seni tahunan. Menurutnya, Sulawesi Selatan membutuhkan ruang pertemuan besar yang menghubungkan sejarah, tradisi, dan masa depan kebudayaan.
Kesenian Sebagai Tulang Punggung Kebudayaan
Dalam sambutannya, Arifin Manggau menyoroti posisi krusial kesenian dalam menjaga identitas masyarakat. Ia berpendapat bahwa kesenian bukan sekadar hiburan semata, melainkan wadah bagi masyarakat untuk merawat ingatan kolektif tentang asal-usul mereka.
“Kesenian adalah tulang punggung kebudayaan. Para seniman merevitalisasi khazanah kebudayaan Sulawesi Selatan secara kreatif di atas panggung,” tegas Arifin di hadapan para peserta dan tamu undangan.
Selain memimpin DKSS, Arifin yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor III UNM ini ingin membangun sinergi antara kampus dan dewan kesenian. Ia memproyeksikan DKSS sebagai laboratorium pertukaran seni yang mempertemukan akademisi, mahasiswa, dan maestro seni secara langsung.
Melawan Kepunahan Cerita Rakyat
Meskipun Sulawesi Selatan kaya akan tradisi tutur, derasnya budaya digital mengancam keberadaan cerita rakyat. Dahulu, masyarakat mewariskan kisah-kisah ini melalui dongeng keluarga di beranda rumah. Namun, kini ruang-ruang tersebut kian menyempit.
Kekhawatiran inilah yang mendorong Aswandi Dg Sewang dan Syarifuddin Dg Bella mengoordinasikan festival ini selama tiga bulan terakhir. Sementara itu, Koordinator Kegiatan Jamal April Kalan menjelaskan bahwa visualisasi teater merupakan langkah penyelamatan agar cerita lokal tidak punah ditelan zaman.
Selanjutnya, sebagai langkah konkret pengarsipan, DKSS juga menyiapkan penerbitan buku yang memuat enam cerita rakyat pilihan. Upaya ini bertujuan memperkuat literasi budaya lokal bagi generasi mendatang.
Kolaborasi Lintas Komunitas dan Daerah
Festival tahun ini menampilkan enam kelompok teater terpilih dari berbagai daerah setelah melalui proses kurasi ketat oleh dewan kurator profesional. Keenam penyaji tersebut meliputi:
-
Teater Kampong (Bulukumba)
-
Bengkel Sastra UNM (Makassar)
-
Dewan Kesenian Kota Palopo
-
Teater Ruang Kelima (Barru)
-
Lembaga Salokoa (Maros)
-
B-Merdhu Production (Gowa)
Selain pertunjukan, panitia menyelenggarakan berbagai workshop untuk meningkatkan kapasitas seniman muda, mulai dari manajemen pertunjukan, penulisan naskah, hingga teknik penyutradaraan.
Pameran Pusaka dan Dukungan Nasional
Di sisi lain, Pameran Benda Pusaka menjadi daya tarik yang tak kalah memukau. Puluhan komunitas, seperti Laskar Celebes Indonesia dan Persaudaraan Monta Bassi, memamerkan koleksi badik, keris, hingga manuskrip kuno. Kehadiran benda-benda ini memperkuat narasi besar tentang identitas dan keberanian masyarakat Sulawesi Selatan.
Keberhasilan acara ini juga tidak lepas dari dukungan Kementerian Kebudayaan RI melalui program Dana Indonesiana dan LPDP. Dukungan tersebut menjadi energi segar bagi ekosistem kebudayaan di daerah.
Acara pembukaan ini turut dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, termasuk Putra Mahkota Kerajaan Gowa, Andi Muhammad Imam Daeng Situju, legislator Makassar Andi Makmur Burhanuddin, serta jajaran seniman senior dan pejabat dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Sulsel.
Comment