MAROS, BERITA-SULSEL.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros kembali menorehkan prestasi gemilang di panggung nasional pada sektor pelayanan kesehatan publik. Kali ini, pemerintah daerah sukses menyabet penghargaan bergengsi berkat keberhasilan inovasi daerah yang bernama Program Sipakatau.
Melalui terobosan tersebut, dinas terkait mampu mendongkrak secara tajam angka penemuan kasus penyakit Tuberkulosis (TBC) secara dini di tengah masyarakat. Langkah aktif ini mendapat apresiasi tinggi karena mempercepat mata rantai penanganan medis sebelum kondisi pasien memburuk.
Bupati Maros, AS Chaidir Syam, menerima langsung penghargaan tersebut dari otoritas kesehatan yang berwenang. Ia menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan buah dari kerja keras dan kolaborasi militan para tenaga kesehatan serta kader posyandu di lapangan.
Sipakatau Maksimalkan Penjaringan Kasus di Pelosok Desa
Chaidir Syam menjelaskan bahwa Program Sipakatau (Sistem Pemantauan dan Pencegahan Kontak Serentak Terpadu) mengedepankan metode jemput bola. Petugas puskesmas tidak lagi sekadar menunggu pasien datang, melainkan aktif melacak riwayat kontak erat dari penderita TBC yang telah terdeteksi.
Langkah taktis ini terbukti sangat efektif dalam membongkar fenomena gunung es pada kasus TBC di Kabupaten Maros. Dengan menemukan kasus lebih awal, tim medis dapat langsung memberikan Paket Obat Anti Tuberkulosis (OAT) secara gratis hingga pasien sembuh total.
“Kami mendedikasikan penghargaan ini untuk seluruh kader kesehatan yang terus bergerak hingga ke pelosok desa. Melalui Program Sipakatau, kita berhasil menyelamatkan banyak nyawa dan mencegah penularan yang lebih luas,” ujar Chaidir dengan nada bangga pada Rabu (24/6/2026).
Dinas Kesehatan Fokus Tekan Angka Putus Obat
Meskipun telah meraih penghargaan, Pemkab Maros enggan jemawa. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maros menegaskan bahwa tantangan terbesar berikutnya adalah memastikan kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat secara rutin selama minimal enam bulan.
Oleh karena itu, kader Sipakatau juga mengemban tugas krusial sebagai Pengawas Menelan Obat (PMO) mandiri. Mereka secara berkala memantau perkembangan klinis pasien sekaligus memberikan edukasi gizi agar daya tahan tubuh penderita cepat pulih.
“Penghargaan ini menjadi cambuk bagi kami untuk bekerja lebih keras lagi. Kami berkomitmen penuh untuk meminimalkan angka putus obat (drop out) demi mewujudkan Maros bebas dari TBC pada tahun-tahun mendatang,” tambahnya secara optimis.
Ajak Masyarakat Hilangkan Stigma Negatif
Selain memperkuat sistem medis, Pemkab Maros juga gencar mengampanyekan gerakan anti-stigma terhadap penderita TBC. Chaidir mengingatkan masyarakat agar tidak mengucilkan para pasien, karena penyakit ini bisa sembuh total dengan pengobatan yang tepat dan teratur.
Melalui dukungan moral yang kuat dari lingkungan keluarga dan tetangga, pasien akan memiliki motivasi yang lebih tinggi untuk sembuh. Pemerintah daerah berharap sinergi yang harmonis antara inovasi sistem dan kepedulian sosial warga dapat terus terjaga demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Maros secara menyeluruh.
Comment