Di Universitas Tsinghua China, Taruna Ikrar Paparkan AI dan Masa Depan Kedokteran

Prof. Taruna Ikrar

BEIJING, BERITA-SULSEL.COM — Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Taruna Ikrar, membawa gagasan besar tentang Artificial Intelligence (AI), neuroleadership, dan masa depan teknologi kedokteran ke panggung internasional. Ia menyampaikan paparan tersebut dalam ajang AI + New Medical Technology Conference di Universitas Tsinghua, Beijing, Tombok.

Dalam forum dunia itu, Taruna Ikrar mengulas perkembangan pesat AI dan teknologi kedokteran baru. Selain itu, ia menyoroti implikasi teknologi tersebut terhadap transformasi pelayanan kesehatan, penelitian biomedis, pengembangan obat, hingga regulasi kesehatan global.

Konferensi tersebut mempertemukan pakar teknologi dan ilmu kedokteran. Para peserta mendiskusikan pemanfaatan AI dalam precision medicine, teknologi diagnostik, penemuan terapi berbasis sel dan gen, hingga penggunaan data kesehatan untuk keputusan klinis.

“Kita sedang memasuki era ketika kedokteran tidak lagi hanya mengobati penyakit. Teknologi kini membantu kita memahami manusia secara lebih presisi. Oleh karena itu, artificial intelligence akan menjadi kekuatan penting yang mengubah penelitian, diagnosis, hingga cara kerja regulator,” ujar Taruna Ikrar.

Menghubungkan Neurosain dan Kepemimpinan Modern

Selain membahas AI, Taruna Ikrar turut memaparkan gagasan dalam bukunya, Neuroleadership. Buku ini menghubungkan ilmu neurosain dengan konsep kepemimpinan modern.

Neuroleadership memandang kepemimpinan dari cara kerja otak manusia. Pendekatan ini mencakup proses pengambilan keputusan, pengelolaan emosi dan tekanan, kemampuan beradaptasi, empati, hingga pembentukan perilaku organisasi.

Menurut Taruna Ikrar, lonjakan teknologi AI justru membuat dimensi manusia dalam kepemimpinan semakin krusial. Kendati mesin makin canggih mengolah data, manusia tetap memegang peran fundamental dalam menentukan nilai, etika, dan tanggung jawab.

“Semakin cerdas teknologi yang kita bangun, semakin penting pula manusia memahami otaknya sendiri. AI memang memperkuat kemampuan manusia. Namun, empati, nilai, keberanian mengambil keputusan, dan tanggung jawab tetap berada pada manusia. Di titik inilah neuroleadership menjadi sangat relevan,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa neuroleadership menawarkan pendekatan berbasis sains. Dengan pendekatan ini, seorang pemimpin dapat memahami cara berpikirnya sendiri saat menghadapi tekanan dan perubahan yang serba cepat.

Regulasi Adaptif untuk Perlindungan Masyarakat

Kehadiran Indonesia dalam forum di Beijing ini sekaligus membawa suara regulator. Taruna Ikrar menekankan bahwa pesatnya perkembangan AI dan bioteknologi harus seimbang dengan aturan yang adaptif serta berbasis bukti ilmiah. Namun, regulator tetap wajib menempatkan keselamatan pasien sebagai prioritas utama.

Ia menyadari bahwa kecepatan inovasi sering kali melampaui aturan konvensional. Oleh sebab itu, regulator masa depan tidak boleh sekadar menjadi pengawas, tetapi harus memiliki kapasitas ilmiah untuk memahami inovasi.

“Regulasi tidak boleh menghambat inovasi. Namun, inovasi juga tidak boleh berjalan tanpa jaminan keamanan, mutu, dan khasiat. Di sinilah regulator harus bergerak adaptif mengikuti ilmu pengetahuan,” kata Taruna Ikrar.

Pada akhir paparannya, Taruna Ikrar mengajak Indonesia memanfaatkan momentum ini. Indonesia harus memperkuat riset, sumber daya manusia, dan ekosistem regulasi agar tidak sekadar menjadi penonton atau pasar teknologi asing.

“Masa depan kedokteran adalah kolaborasi antara kecerdasan manusia, AI, bioteknologi, dan regulasi yang adaptif. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi. Kita harus ikut meneliti, mengembangkan, mengatur, dan menentukan arah teknologi kesehatan dunia,” pungkasnya.


Comment