
Laporan : Muhammad Ramli Rahim
Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia Wilayah Sulawesi Selatan
Dari Makassar, Sulsel
Setelah melakukan pemantauan dibeberapa kabupaten di Sulsel saat UKG lalu, kami berkesimpulan bahwa UKG di Sulsel telah berjalan baik dan lancar.
Beberapa guru yang kami wawancarai menyampaikan bahwa UKG kali ini jauh lebih baik meskipun mungkin belum sempurna
Kini hasil UKG telah ada ditangan Kemendikbud, memang belum diumumkan secara luas tapi setidaknya terlihat disana bahwa Sulsel, provinsi yang banyak melahirkan tokoh nasional ini masih harus berbenah, rata-rata UKG Sulsel masih jauh dari standar minimal kelulusan 55%, bahkan masih dibawah rata-rata nasional 53,05% dan hanya berada diperingkat 19 di Indonesia dengan 49,12%
Dengan segala kekurangan UKG, setidaknya UKG telah memberikan cerminan kualitas guru di Indonesia dan akan dijadikan acuan kemdikbud untuk melakukan pelatihan dan pembinaan guru sesuai “tingkat kerusakannya”
Guru yang punya nilai diatas standar minimal cenderung menganggap UKG sdh baik dan tinggal sedikit dibenahi tapi mereka yang protes dengan seribu satu alasan bahkan mengatakan UKG jelek mayoritas adalah mereka yang justru nilai UKGnya rendah dan mencari kesalaham diluar dirinya
Namun apapun itu, Sulsel harus berbenah, faktanya Sulsel dibawah rata-rata Nasional
Lalu apakah ini tanggung jawab pemerintah semata? Bukan, itu adalah tanggungjawab kita semua terutama institusi pendidikan penghasil guru serta organisasi profesi guru, perusahaan dan orang tua
Kita tak boleh lagi menambah buruk rata-rata kualitas guru dengan memaksakan guru-guru honorer yang tidak berkualitas untuk diakomodir menjadi PNS karena sesungguhnya guru harus berada pada level tertinggi kualitas manusia, seharusnya kita ajak teman-teman guru honorer memantaskan diri diterima sebagai Guru PNS
Kita tak boleh lagi memaksakan guru-guru kualitas rendah untuk juga menikmati tunjangan sertifikasi guru karena sertifikasi dan apreseasi seharusnya berbanding lurus dengan kinerja dan kompetensi
Bagaimana dengan guru-guru “tua” yang tak lagi mampu berkembang, alhamdulillah, kita punya keran yang bernama pensiun sehingga perlahan tapi pasti mereka mereka tak lagi menjadi bagian dari guru tak berkualitas tapi tetap kita berikan mereka penghargaan diakhir masa pengabdiannya
Lalu apa yang bisa kita lakukan selain itu?
Ayolah, kita semua yang terkait dengan pendidikan serta mereka yang memiliki kekuatan untuk mendorong peningkatan kompetensi guru agar bersatu padu melakukan segala cara meningkatkan kualitas mereka
Kemendikbud sedang melakukan penelitian tentang UKG dan alhamdulillah IGI Wilayah Sulsel dan IGI Wilayah Jabar mendapat kesempatan terlibat didalamnya, Jika hasil UKG tampak seperti lapisan tanah, lumpur pekat, lumpur sedang, air keruh dan air bening maka kemendikbud dan kita semua telah memiliki dasar untuk melakukan sentuhan berbeda pada setiap lapisannya, jangan pernah memberikan pelatihan dengan materi dan perlakukan lapisan bening pada lapisan lumpur pekat karena hasilnya tak akan maksimal seperti memberi obat dosis rendah pada penyakit kritis
Organisasi guru harus bisa berperan aktif, kami di IGI sudah meminta langsung ke Mendikbud agar 24 jam pengajaran tatap muka dirubah menjadi 18 jam tatap muka dan 6 jam untuk pengembangan diri dan kompetensi tak boleh lagi terjadi ada guru “spesialis pelatihan” atau “guru pemburu honor pelatihan” tapi mereta buat semua guru dengan motivasi tinggi meningkatkan kualitasnya
Dana organisasi guru, CSR perusahaan dan dana pemerintah tak lagi dihabiskan untuk tiket pesawat atau honor pengurus atau aparat tapi lebih pada upaya meningkatkan kompetensi guru yang menjadi inti dari masa depan negeri ini. (*)
Baca Juga
Sekertaris IGI Lutim Pimpin Tim Penelitian UKG
Gamasi Jaya FM Penjaga Peradaban dan Kearifan Lokal
AIM Buat Petisi Bantu Berdayakan Warga Dangko
Comment