
BONE, BERITA-SULSEL.COM – Bupati Bone Andi Fahsar Mahdin Padjalangi bersama Wakil Bupati Ambo Dalle mengunjungi Kecamatan Cenrana, Jumat, (16/1/2016) lalu. Dalam kunjungan tersebut, Bupati mendampingi Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Kementerian Sosial RI, Syahabuddin.
Kunjungan kerja Bupati kali ini juga meresmikan Masjid Nurul Hadi Nipa-Nipa, Desa Pusungnge, Kecamatan Cenrana yang dirangkaikan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.
Berdasarkan pantauan, orang nomor satu dan dua di Bone ini menggunakan perahu katinting menyibak riak sungai Walennae.
Kabag Humas dan Infokom, A.Promal Pawi mengatakan, kunjungan kerja Andi Fahsar Mahdin Padjalangi dan Ambo Dalle ke Desa Lusunge Kecamatan Cenrana dalam rangka perayaan maulid sekaligus syukuran kepada kepala Desa terpilih Abd Hamid dan peresmian masjid.
Sekadar diketahui, Desa Pusungnge, Kecamatan Cenrana merupakan pemekaran desa tahun 1993 terbagi atas dua dusun, yaitu dusun I dan dusun II Nipa-Nipa. Sebagian wilayah kecamatan Cenrana dengan 1 kelurahan dan 15 desa diselimuti oleh tambak yang menjadi tempat mata pencaharian utama hampir seluruh warga setempat, termasuk desa Pusungnge.
Beberapa warga mempunyai tambak sendiri yang dikontrak untuk dikelola, beberapa lainnya bekerja kepada pemilik tambak sebagai pekerja. produksi hasil tambak mereka pun di desa ini cukup besar sampai terkenal pada skala nasional hingga internasional.
Hasil-hasil produksinya meliputi berbagai jenis ikan, udang, kepiting, dan yang paling baru dan diminati warga adalah bertani Sango-sango, semacam pertanian rumput laut yang tumbuh di air payau, biasanya di tambak. Anak muda usia remaja pun banyak yang memilih untuk mengambil profesi ini di umur produktif mereka untuk belajar di sekolah atau perguruan tinggi.
Setiap bulan mereka rata-rata bisa memperoleh penghasilan kira-kira 2-3 juta per bulan dengan bekerja sebagai buruh membantu pemilik tambak untuk merawat dan memanen hasil. Mereka bekerja dari pukul 8 pagi hingga 3 sore.
Salahsatu pemilik tambak, Rifai mengatakan, kalau kondisi dan cuaca mendukung, mereka bisa memperoleh penghasilan kotor sekira 90 juta rupiah persepuluh hari panen, tentunya dengan hasil tambak yang dibarengi dengan Sango-sango, rumput laut yang pengelolaannya tidak begitu sulit dan dihargai oleh pasaran cukup tinggi hingga diekspor ke luar negeri misalnya Korea untuk kemudian diolah menjadi bahan makanan atau kosmetik.
Tidak seperti beberapa desa lainnya di Cenrana di mana orang biasa menggunakan sawah tadah hujan untuk bertani di kala kemarau, empang menjadi satu-satunya sumber kehidupan utama di Pusungnge.
Di Desa Pusungnge, hanya ada satu sekolah yaitu yang ada di dusun II, Nipa-nipa. Jaraknya cukup jauh dari dusun I ditempuh dengan perahu katinting selama sekitar 15 menit. bahkan tidak sedikit anak SD yang tinggal di dusun I memilih untuk hengkang bersekolah ke desa lain di luar Pusungnge dengan alasan karena jarak yang memang lebih dekat dibanding bersekolah di dusun II.
Untuk kegiatan hiburan di kampung ini, masyarakat terutama anak muda biasa menghabiskan waktu dengan olahraga-olahraga seperti sepak bola, sepak takraw, bola voli, dan bulu tangkis. Adapun hiburan lainnya, televisi beserta siaran-siaran nasional dan mancanegara sudah dapat diakses warga dengan antena parabola. Melihat kemampuan akses informasi yang cukup tinggi ini, tidak semestinya masyarakat di sini dinyatakan tertinggal.
Untuk transportasi, perahu menjadi kendaraan utama warga setempat untuk mobilisasi dari satu desa ke desa lain, hingga ke kecamatan. Di Pusungnge sendiri, layaknya desa tulen, hampir tidak pernah melihat motor, apalagi mobil. Sebagai gantinya, tiap rumah memiliki perahu Katinting sebagai alat transportasi utama mereka menyeberangi sungai besar Cenrana yang terparkir rapi di pinggir sungai.
Perahu Katinting semacam perahu buatan tangan manusia pada umumnya yang panjangnya 3-4 meter yang menggunakan mesin berbahan bakar bensin dan memuat 3-4 orang. Katinting seperti yang dinaiki bapak Bupati Bone dikemudikan oleh satu orang di bagian belakang perahu.
Untuk angkutan umum, warga menggunakan perahu katinting yang lebih panjang guna memuat 10-15 orang, yang mereka sebut dengan Taxi. Taxi dapat dijumpai di dermaga-dermaga setiap desa, termasuk di pasar.
Lahan taman desa di desa ini kurang, mengingat daratan desa yang dipenuhi dengan pasir, jadi tanaman-tanaman hias agak sulit ditemui. Namun dengan mengarungi desa Pusungnge, mata tetap akan dimanjakan dengan tumbuhan-tumbuhan pesisir yang tumbuh bebas di berbagai tempat, misalnya kelapa, mangrove, dan beberapa lainnya. (Yus)
baca juga
Selain Dituduh Curi Ikan, Nelayan di Bone Juga Diparangi Hingga Kritis
Demam Berdarah Mewabah di Bone
Pemda Bone Ngotot Beli Mobil Dinas Bupati Rp1,7 Miliar
Comment