
BERITA-SULSEL.COM – Hingga hari ini, harga daging ayam dan sapi di sejumlah pasar masih tinggi. Di Pasar Ciledug Tangerang, misalnya. Harga daging sapi dibanderol Rp 35-45 ribu per ekor. Padahal harga normal ada di kisaran Rp 25-30 ribu per ekor. Menurut pedagang, tingginya harga ayam dikarenakan minimnya pasokam ayam dari peternak. Akibatnya harga jual di pasar menjadi tinggi.
Pedagang mengaku rugi dengan kondisi ini. Apalagi minat masyarakat membeli daging cenderung turun, dikarenakan tingginya pengeluaran masyarakat untuk berbagai kebutuhan seperti biaya anak sekolah dan lainnya. Akibat kondisi ini, pedagan mengaku menjual ayam dengan harga rugi. “Ya mau nggak mau saya jual rugi. Kalau nggak, nggak laku. Besok-besok juga sudah nggak laku,” kata Agus, pedagang daging ayam.
Harga daging sapi pun serupa. Sampai saat ini, harga daging sapi di pasar tradisional ada di kisaran Rp100-110 ribu per kilogram. Tingginya harga daging sapi ini diakui oleh Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Kementerian Pertanian Fini Murfiani. Dia bilang, penyebabnya adalah ada importir daging sapi yang nakal. Yang mengambil margin untung yang terlalu besar. “Importir, nanti kami akan koordinasi dengan Kemendag, nanti masing-masing margin itu kita batasi. Tapi mereka (importir) masih tetap akan untung, minimal 10 persen batasnya,” kata Fini, kemarin.
Menurut Fini, saat ini Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) telah mengusulkan margin keuntungan dari importir daging sapi harus di bawah 10 persen. Hanya saja, saran ini masih perlu dibahas secara lebih lanjut antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan agar hal ini tidak memberatkan para importir. “Nanti juga akan kita bahas tingkat keuntungan apakah di bawah 10 persen atau di atas 10 persen. Kalau KPPU mengusulkan di bawah 10 persen,” imbuhnya.
Dengan begitu, importir diharapkan dapat bersikap kreatif agar dapat meningkatkan keuntungan. Salah satunya adalah dengan melakukan budi daya ternak sapi lokal. “Kami juga minta importir agar mengembangkan ternak lokal,” tuturnya.
Pengamat Peternakan IPB Yeka Hendra Fatika mengatakan, tingginya harga daging sapi ini diperkirakan akan bertahan hingga akhir tahun 2016. Penyebabnya adalah minimnya stok daging sapi. Saat ini Kementerian Pertanian masih kekurangan lebih dari 200 ribu ton daging sapi.
Menurut Yeka, kurangnya stok daging sapi itu dikarenakan merosotnya populasi sapi dalam negeri, sementara kebutuhan masyarakat terus meningkat. “Masalah utamanya itu di hulu bukan di hilir, segera lakukan perbaikan pembibitan nasional,” ujar Yeka. (*)
sumber rmol.co
Comment