Kampus Tak Bisa Jalan Sendiri: Menakar Konsep ABG Taruna Ikrar Menuju Kelas Dunia

Prof. Dr. Taruna Ikrar,

MEDAN, BERITA-SULSEL.COM – Banyak perguruan tinggi di Indonesia bermimpi mencapai status universitas kelas dunia. Namun, mimpi ini sering kali terhambat karena kampus memilih berjalan sendiri mengarungi tantangan global. Terkait hal ini, Prof. Dr. Taruna Ikrar, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, baru saja menggebrak kesadaran akademisi melalui kuliah tamunya di Universitas Prima Indonesia (UNPRI) Medan, Kamis (6/8/2026).

Ia menawarkan solusi tajam bernama konsep Academic, Business, Government (ABG). Konsep ini menuntut sinergi tiga pilar utama untuk mempercepat inovasi, mendorong hilirisasi riset, dan meningkatkan daya saing bangsa.

Selama ini, kita melihat kampus berjuang keras mencetak lulusan yang unggul. Akan tetapi, kondisi global saat ini menuntut perguruan tinggi memberikan lebih dari sekadar selembar ijazah. Kampus harus bertransformasi menjadi pusat inovasi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung.

Taruna Ikrar menegaskan bahwa tanpa kolaborasi erat dengan dunia usaha dan pemerintah, kampus akan kesulitan mendunia. Universitas terkemuka di negara maju tidak hanya membanggakan jumlah publikasi ilmiah. Sebaliknya, mereka sukses menciptakan produk nyata yang industri butuhkan dan masyarakat gunakan, tentu berkat dukungan kebijakan pemerintah yang tangguh.

Sebagai ilmuwan yang memiliki rekam jejak global, Taruna membuktikan ucapannya melalui pengalaman panjangnya. Lulusan kedokteran Universitas Hasanuddin ini pernah menimba ilmu di Jepang, lalu berkarier sebagai peneliti di Amerika Serikat.

Berdasarkan pengalaman tersebut, ia melihat langsung bagaimana negara-negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Tiongkok membangun pondasi ekonomi mereka.

Negara-negara ini berhasil mengawinkan riset laboratorium universitas dengan modal industri serta regulasi pemerintah yang adaptif. Akibatnya, kampus-kampus di sana berevolusi menjadi inkubator bisnis yang mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.

Selanjutnya, dalam konteks kesehatan nasional, konsep ABG ini memegang peran yang sangat strategis. BPOM melihat peluang besar untuk mempercepat pengembangan obat, vaksin, kosmetik, dan produk berbahan alam asli Indonesia.

Jika kampus memproduksi riset yang berkualitas, lalu industri memberikan dukungan pendanaan yang kuat, dan pemerintah menyusun regulasi berbasis sains, maka Indonesia pasti mampu memimpin inovasi farmasi global. Dengan demikian, karya ilmiah dan inovasi para dosen tidak lagi berhenti atau berdebu di dalam laci perpustakaan.

Pada akhirnya, seluruh elemen bangsa perlu menyadari bahwa kolaborasi adalah kunci masa depan pendidikan kita. Gagasan cerdas Taruna Ikrar ini juga sangat sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang fokus membangun sumber daya manusia unggul.

Karena itu, inilah saatnya kampus, perusahaan, dan pemerintah meruntuhkan ego sektoral masing-masing. Mari kita bergandengan tangan menerapkan konsep ABG secara nyata, agar Indonesia segera melahirkan universitas-universitas berkelas dunia yang menggerakkan roda kemajuan peradaban bangsa.


Comment