Tembus Forum Dunia, Kepala BPOM Taruna Ikrar Dorong Herbal Nusantara Berbasis Sains

Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar memaparkan strategi modernisasi herbal Nusantara berbasis sains dalam forum internasional ICMCM 2026 di Hong Kong.

HONG KONG, BERITA-SULSEL.COM — Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menghentak panggung internasional saat menjadi pembicara dalam International Conference of the Modernization of Chinese Medicine & Health Products (ICMCM) 2026. Dalam forum bergengsi di Hong Kong Convention and Exhibition Centre (HKCEC) tersebut, ia menegaskan bahwa sudah saatnya herbal Nusantara bertransformasi menjadi produk kesehatan berbasis sains modern.

Dalam pemaparannya secara daring pada Kamis (13/8/2026), Taruna Ikrar membawa misi besar untuk mengangkat derajat obat bahan alam Indonesia ke tingkat global. Dalam agenda internasional ini, Staf Khusus Kepala BPOM dr. Wachyudi Muchsin, S.Ked., S.H., M.Kes., C.Med., turut mendampingi pimpinan BPOM tersebut.

Forum ICMCM 2026 sendiri mempertemukan ratusan ilmuwan, akademisi, peneliti, regulator, dan pelaku industri dari berbagai belahan dunia. Para peserta, termasuk peneliti obat tradisional dari universitas terkemuka di Tiongkok dan Asia, berkumpul untuk membahas perkembangan teknologi, standardisasi, serta masa depan obat berbasis bahan alam.

Sejumlah tokoh internasional seperti Mr. Kim Ho dan Mrs. Aling Pratama menyimak dengan penuh antusias paparan Kepala BPOM RI mengenai peluang modernisasi herbal Indonesia.

Sains Modern Perkuat Warisan Leluhur

Dalam presentasinya, Taruna menekankan bahwa modernisasi obat tradisional tidak berarti membuang pengetahuan lokal yang diwariskan leluhur selama berabad-abad. Sebaliknya, peneliti harus mempertemukan pengetahuan empiris tersebut dengan pembuktian ilmiah modern.

“Peneliti harus membuktikan manfaat bahan alam secara ilmiah agar produk herbal memenuhi standar keamanan, khasiat, dan mutu yang ketat,” ujar Taruna.

Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence), bioteknologi, genomik, metabolomik, dan big data akan mempercepat identifikasi senyawa aktif. Teknologi modern ini juga mempermudah proses standardisasi hingga pembuktian klinis obat bahan alam.

Potensi Gigantis Biodiversitas Indonesia

Indonesia saat ini memiliki lebih dari 30.000 spesies tumbuhan, dan sekitar 9.600 hingga 17.200 di antaranya menyimpan potensi besar sebagai tanaman obat. Namun, Taruna menyayangkan karena kekayaan mega-biodiversitas ini belum bertransformasi secara maksimal menjadi produk terstandar.

Saat ini, jumlah produk yang masuk kategori Obat Herbal Terstandar (OHT) baru mencapai puluhan. Sementara itu, produk yang menembus tingkatan fitofarmaka—yakni obat bahan alam dengan dukungan uji klinis lengkap—masih berada pada kisaran belasan hingga 21 jenis. Kesenjangan inilah yang menjadi ruang besar bagi akselerasi riset, inovasi, dan hilirisasi.

Berbagai tanaman asli Indonesia seperti temulawak, kunyit, jahe, kencur, sambiloto, meniran, pegagan, kumis kucing, kelor, cengkeh, pala, hingga kayu manis memendam potensi raksasa. Para ilmuwan dapat mengembangkan bahan-bahan tersebut melalui riset farmakologi dan uji klinis secara terarah.

“Indonesia memiliki biodiversitas yang luar biasa. Kita tidak boleh berhenti hanya sebagai pemasok bahan mentah. Kita harus mentransformasikan kekayaan tanaman herbal melalui riset, standardisasi, inovasi, dan hilirisasi menjadi produk bernilai tambah tinggi yang mampu bersain di pasar dunia,” tegas Taruna.

Sambut Kolaborasi Global

Gagasan cerdas Kepala BPOM RI ini langsung memantik respons positif dari para peserta konferensi. Mr. Kim Ho dan Mrs. Aling Pratama menilai bahwa strategi penguatan riset herbal Indonesia membuka ruang kolaborasi yang sangat luas antara akademisi, pemerintah, dan dunia usaha internasional.

Kedua praktisi tersebut sependapat bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjual kekayaan alamnya sebagai komoditas murah, melainkan harus mengolahnya menjadi produk inovatif berskala global.

Di sisi lain, Taruna menyebut pengalaman Tiongkok dalam memodernisasi Traditional Chinese Medicine (TCM) dapat menjadi referensi berharga. Meski demikian, Indonesia tetap memiliki karakter unik melalui tradisi jamu dan kekayaan herbal Nusantara.

Oleh karena itu, Taruna mendorong penguatan sinergi Academic, Business, and Government (ABG). Lembaga riset dan perguruan tinggi bertugas menghasilkan bukti ilmiah, industri mempercepat produksi massa, sedangkan pemerintah bersama BPOM membangun ekosistem regulasi yang ramah inovasi tanpa mengorbankan keamanan konsumen.

Partisipasi aktif Kepala BPOM RI dalam ICMCM 2026 ini menjadi batu loncatan penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam jejaring riset global sekaligus memasarkan keunggulan herbal Nusantara ke mancanegara.


Comment