
LUWU, BERITA-SULSEL.COM- Akibat lambatnya respon pemerintah daerah terhadap putusnya akses jembatan di Desa Pacerakang, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, para pelajar di desa tersebut harus menantang bahaya ke sekolah.
Pasca jembatan putus, sudah dua pekan ini para pelajar di Desa Pacerakang harus menaiki rakit menyeberangi sungai jika hendak ke sekolah yang terletak di seberang sungai.
Baca Juga : Usai ‘Pesta’ Luwu Expo, Kajari Bakal Seret Terduga Koruptor Luwu
Tak hanya menantang bahaya, para siswa juga harus mengeluarkan biaya jika ingin menyeberangi sungai, sebab para siswa dibebankan biaya Rp1000.
“Untuk siswa Rp1000 dan warga umum Rp2000. Kami tetap harus bayar kalau tidak, kami tidak bisa sampai ke sekolah, ”kata salah satu siswa, Rian.
Baca Juga : Farid Haluti, Impian Hadirkan Prodi S2 di Unismuh Luwuk
Walau uang jajan harus berkurang, dikarenakan membayar biaya penyeberangan, menantang bahaya derasnya arus sungai, tidak membuat siswa-siswa di Desa Pacerakang putus asa bersekolah. Mereka tetap bersemangat demi mengejar ilmu dan cita-cita. “Airnya deras kalau musim begini, tapi kami tidak takut kok, ”tambah Rian.
Baca Juga : Penderita Diare di Luwu Meningkat
Jembatan Pacerakang putus sejak 23 Januari lalu. Saat itu Kecamatan Ponrang Selatan diterjang banjir besar, mengakibatkan jembatan yang menghubungkan Desa Pacerakang kesejumlah desa lainnya putus, sementara sampai saat ini belum ada tanda-tanda upaya perbaikan dari pemerintah.(arm/zad)
Comment