Kisah Perempuan “Penunggu” Lampu Merah Taman Arung Palakka Bone

Kisah Perempuan “Penunggu” Lampu Merah Taman Arung Palakka Bone

BONE, BERITA-SULSEL.COM – Kokoh bangunan Lapangan Merdeka serta gemerlap lampu seiring musik yang mengiringi air terjun di Taman Arung Palakka rupanya menyimpan kisah tersendiri bagi Hannah, perempuan “penunggu” lampu merah yang kini telah berumur 60 tahun.

Sejak 20 tahun lalu, Hannah sudah terbiasa duduk dipinggiran jalan dekat lampu merah dengan berbekal cahaya pelita untuk sekedar menunggu pembeli kacang rebus dan kacang goreng yang ditumpuk diatas sebuah tampih miliknya.

Baca Juga : Polisi Gelar Rekonstruksi Pembunuhan di Bone Dibawah Patung Arung Palakka

Dengan beralaskan tikar plastik, Hannah duduk di trotoar sejak pukul 05.00 sore hingga pukul 01.00 dini hari demi membantu sang suami yang hanya berprofesi sebagai pengayuh becak, bahkan kini sudah renta dan sakit-sakitan.

Terbiasa dengan dinginnya angin malam, ibu dari dua anak dan enam cucu ini mengaku bergantung hidup dari hasil berjual kacang. Meski penghasilan pas-pasan hanya sekitar 50 sampai 100 ribu rupiah permalam, Hannah tetap bertahan agar bisa tetap makan bersama suami setiap harinya.

Baca Juga : Jual Emas Palsu, Gadis Muda Asal Malang Dibekuk Polisi di Bone

“Sekarang berjualan itu susah, hasilnya sedikit, hanya cukup buat makan tapi bersyukur karena masih dibolehkan berjualan disini” tutur Hannah.

Rambutnya yang memutih karena usia serta tubuhnya yang terkadang lemah diterpa angin malam tak menjadikan Hannah menyerah untuk terus mencari nafkah buat keluarga.

Baca Juga : Curi Ternak Warga, Karyawan Pabrik Gula Bone Ditembak Polisi

Meski tak sendirian, Hannah adalah orang paling lama berjualan di trotoar lampu merah Taman Arung Palakka tersebut. Dijaman pemerintah sebelumnya, Hannah mengaku banyak dibantu dan diberi sumbangan berupa uang dan barang.

“Waktu bupati lama, saya sering diberi modal uang, payung untuk berjualan juga sarung” kenangnya.

Kini, Hannah masih bertahan berjualan di trotoar depan Taman Arung Palakka meski pembelinya makin sedikit karena tersingkir oleh jajanan-jajanan lain yang lebih modern. Hannah berharap bisa mendapatkan sedikit perhatian pemerintah agar bisa berjualan ditempat yang lebih baik dan menambah jenis jualannya sehingga mampu membawa pulang uang lebih untuk keluarga tercinta yang menunggunya dirumah. (Eka)


Comment