BONE, BERITA-SULSEL.COM — Memilih berpisah dengan suami yang mengidap gejala gangguan jiwa sejak 5 tahun silam, Ani (51), kini tinggal di sebuah rumah panggung yang nyaris roboh di Desa Ajallasse, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Bone. Ani diketahui memiliki 9 orang anak, 4 diantaranya telah menikah dan tinggal di rumah masing-masing. Di rumahnya yang sudah tidak layak huni tersebut, Ani menghabiskan waktu bersama 3 anaknya dengan kondisi yang memprihatinkan.
Rumah panggung yang menjadi tempat berlindung Ani bersama anak-anaknya selama puluhan tahun, terlihat mulai miring. Sejumlah tiang penyangga telah patah yang membuat Ani dan anak-anaknya tak pernah merasa nyaman dan aman ketika berada di rumah. Ani mengaku kondisi rumah tersebut telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.
Sayang, jangankan untuk memperbaiki rumah, Ani yang hanya mengandalkan penghasilan dari kerja serabutan, harus memutar otak tiap hari agar dia dan anak-anaknya tetap bisa makan dan bertahan hidup. Ani hanya bisa menawarkan jasa ketika ada warga yang membutuhkan tenaga untuk membantu memanen padi. Sebagai tambahan, sesekali Ani bekerja di sebuah gudang yang berlokasi tak jauh dari rumahnya.
“Bisa kita lihat sendiri bagaimana kondisi rumahku, Nak. Sebagian tiang di belakang sudah patah. Kalau kami di atas rumah, selalu was-was karena rumah ini sudah mau roboh,” cerita Ani dengan mata berkaca-kaca.
Ani mengaku tinggal bersama tiga anaknya, dua di antaranya masih duduk di bangku SMP. Satu anaknya di SMP Cenrana, sementara seorang lagi dikirim untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat. Anaknya yang seorang lagi memilih ikut bekerja bersama warga untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Di tengah kondisi tersebut, Ani sebenarnya pernah mendapat tawaran dari pamannya untuk tinggal di kota.
Namun, pilihan itu bukan perkara mudah. Ia masih memiliki anak yang bersekolah di Cenrana. Sementara hidup di kota membutuhkan biaya yang jauh lebih besar.
“Sebenarnya saya pernah disuruh tinggal di kota oleh om saya, Nak. Cuma anak saya masih SMP di sini. Kalau di kota semuanya perlu uang. Kalau di sini saya masih bisa ikut kerja di gudang,” kenangnya.
Pada akhirnya, Ani memilih bertahan di rumah yang nyaris roboh itu. Bukan karena merasa rumah tersebut aman, melainkan karena hanya di sanalah Ani masih mampu berjuang mencari nafkah untuk anak-anaknya. Ani menuturkan beberapa hari lalu, salah seorang anaknya yang telah berkeluarga datang berkunjung bersama sang cucu.
Namun, bukannya mempersilahkan sang anak tinggal lebih lama, Ani justru meminta anaknya segera pulang. Ani khawatir rumah yang mereka tempati sudah tidak mampu menahan beban orang yang berada di dalamnya. Tiang-tiang penyangga rumah yang mulai patah membuat Ani sadar bahwa keselamatan keluarganya sewaktu-waktu bisa terancam.
Dengan kondisi yang serba terbatas, Ani hanya bisa berharap ada perhatian dan bantuan baik dari pihak pemerintah Kabupaten Bone, maupun pihak lain yang berkenan untuk memperbaiki rumahnya. Ani sempat mengutarakan rasa heran karena ada beberapa rumah warga yang masih layak huni dan kondisinya lebih baik dari rumahnya, tapi telah diberi bantuan bedah rumah.
Comment